21 Februari 2008

Welcom to the world baby Rein

Sabtu dini hari, kira-kira jam 3 pagi, mobile phoneku berdering. Dengan mata masih mengantuk aku angkat juga telfon itu dan terdengarlah suara seorang laki-laki. Begini bunyinya...

" Halo Mel, mmm.. kayanya Susan mau melahirkan sekarang. Bisa nitip Renata nggak? Aku mau ke rumah sakit."

" Ooo..iya..iya Mas, Bisa" jawabku

Langsung saja dini hari itu, aku dan suamiku berjalan menuju rumah seorang sahabat yang sebentar lagi akan melahirkan anak keduanya. Dengan terburu-buru kami berangkat dari rumah. Suamiku saja belum sempat sisiran ternyata. Aku baru sadar sewaktu on the way ke rumah mereka. Dan sesampainya disana, ternyata belum ada siapa-siapa. Mas Eko, suaminya Mbak Susan yang membuka pintu.

"Sorry Mel, ganggu malam-malam" katanya sembari membukakan pintu.

"Nggak pa-pa Mas" jawabku.

"Bidan dan perawatnya belum datang." jelas Mas Eko lagi

Kemudian kami bertiga menunggu kedatangan bidan. Dan beberapa menit kemudian, datanglah bidan yang cantik dan masih muda. Aku saja sempat terkagum-kagum dengan kecantikannya. Setelah memeriksa Mbak Susan, bidan itu pun menjelaskan bahwa ternyata mbak susan ga sempet lagi dibawa ke rumah sakit. Katanya udah bukaan tujuh, jadi lebih baik melahirkan di rumah. Dan memang...finally she delivered her baby at home. Untungnya Mbak Susan telah mempersiapkan semuanya. Mbak Susan bilang, mendingan disiapin semuanya in case bidan atau taxi yang di telfon telat datengnya. Dan memang, bener... Mbak Susan melahirkan di rumah. And it was really so fast. I didnt hear any big screams when I was waiting outside the room. Dan kira-kira puku 4.30 pagi, lahirlah seorang baby dengan berat 3.25 kg, bernama Rein. Katanya dalam bahasa Belanda, Rein ini berarti bersih, bagus.

Hartelijk Gefeliciteerd met jullie jongetje geboren ;)))))

PS: Ga sempet ngambil fotonya ;p

5 Februari 2008

Pengalaman temenku

Pagi ini aku harus melakukan X Ray Tubercolosis di GGD. Sepulangnya dari GGD, aku menyempatkan singgah ke rumah salah satu sahabatku. Aku memanggilnya Mbak Susan. Mbak Susan kini tengah hamil 9 bulan. Ini kehamilan keduanya. Mbak yang satu ini banyak sekali membantuku pada awal-awal kedatanganku di kota ini. Pagi ini aku berkunjung ke rumahnya hanya sekedar ingin melihat kondisinya kini. Mbak Susan banyak sekali bercerita tentang persiapannya melahirkan disini. Setelah banyak mendengar cerita beliau, aku baru sadar..ternyata melahirkan di negara orang nggak sesimple yang aku bayangkan.

Ada dua option untuk melahirkan disini. Option pertama di Rumah Sakit. Option Kedua di rumah. Mbak Susan memilih untuk melahirkan di Rumah Sakit. Tapi jangan samakan dengan melahirkan di Rumah Sakit seperti di Indonesia. Disini segala macam persiapan melahirkan harus kita bawa sendiri. Mulai dari kapas, gunting, semuanya deh... Bidan dan suster yang kita hire selama hamil akan memberi kita list apa-apa saja yang harus dibawa ke rumah sakit. Jadi ke RS sambil bawa satu dus gede untuk melahirkan. Dan nanti setibanya di RS, jika kita merasa nyeri atau kontraksi, kita juga harus membeli sendiri obat penghilang rasa nyeri di RS. Bukannya dibawain ama suster-suster seperti di Indo. Dan jika proses melahirkan selesai, setelah 3 jam kita akan disuruh pulang langsung. Kaga pake acara nginep kaya di Indo

Nah..kalo mo ngelahirin di rumah, kita kudu nyiapin semuanya di rumah. Tempat tidur tingginya at least 80 cm. Ada semacam penopang tempat tidur agar menjadi lebih tinggi dan stabil. Penopang itu kita letakkan disetiap kaki-kaki tempat tidur. Dan lapisan seprai pun juga diperhatikan sekali. Pertama-tama matras (kasur) harus dilapisi dengan plastik. Kemudian dilapisi lagi dengan beberapa selimut dan baru dilapisi seprai. Peralatan melahirkan pun harus kudu kita siapin sendiri.

Untungnya Mbak Susan punya suami siaga seperti Mas Eko

Ga kebayang deh..gw kalo ngelahirin disini siap ga ya? Walaupun aku belum menunjukkan tanda-tanda hamil, tapi informasi begini harus tau

Sekedar Curhat

Menjadi seorang muslim yang konsisten memakai hijab di Eropa orang bilang tidaklah mudah. Pasti banyak tantangannya. Setidaknya muslim tersebut dituntut untuk mempunyai iman yang kuat. Jika tidak mungkin saja mereka akan membuka hijab guna mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak.

Selama kurang lebih 6 bulan aku disini, alhamdulillah aku merasa enjoy dan mendapat perlakuan yang sewajarnya dari penduduk lokal. Aku jadi inget beberapa minggu yang lalu, saat aku dan suamiku menghadiri acara perayaan defense salah satu kolega suamiku, aku mendapat pertanyaan dari salah satu teman dari UT. Ia menanyakan " Is it hard for you to be a moslem here? ". Dan aku langsung jawab tidak sama sekali. Aku belum pernah mendapat perlakuan yang tidak wajar apalagi dilecehkan. Mungkin saja hal itu dikarenakan aku disini hanya menjadi housewife, bukan untuk bekerja. Di kursus bahasa yang aku ikutipun, sama sekali tidak ada perbedaan perlakuan terhadapku. Aku benar-benar merasa enjoy disini. Sekali lagi mungkin aku disini hanya untuk belajar, bukan untuk bekerja.

Sering aku dengar bahwa orang muslim disini mendapat kesulitan untuk bekerja secara profesional. Sekitar 60-70 % para muslim disini yang kebanyakan berasal dari Maroko dan Turki mendapat pekerjaan nomor dua. Dalam artian mereka(pihak perusahaan) tentunya akan mengutamakan penduduk lokal untuk di hire sebagai pekerja. Banyak muslim disini yang bekerja menjadi frontliner, di bagian kassa atau di bagian cleaning. Hal ini juga sempat menjadi Headline News di koran lokal. Sedangkan 30% sisanya berhasil mendapat pekerjaan yang layak. Aku salut dengan para wanita muslim yang konsisten memakai hijab dan juga berhasil dalam karir mereka di Eropa. Pasti jalannya tidak mudah. Pasti banyak tantangan yang mereka hadapi.

Jadi inget postingan Uni Nining beberpa hari lalu tentang cerita seorang Top Lawyer wanita muslim di Eropa. Pasti banyak rintangan yang ia hadapi. Aku bisa membayangkan berapa berat jalan yang harus ia tempuh untuk bisa menjadi seperti sekarang. Tapi dengan kerja keras dan kemauan yang kuat, toh ia bisa menjadi seorang lawyer ternama kini.

Jadi..untuk teman-temanku yang memakai hijab dan bekerja di Eropa, aku salut pada kalian. Teruskan perjuangan kalian ya ;)))