Pernahkah anda merasa asing di suatu tempat? Bahkan asing di tempat tinggal anda sendiri. Merasa beda sendiri. Beda dengan orang-orang di sekitar anda. Semuanya berbeda. Cara anda berpakaian berbeda dengan orang-orang disekitar anda. Bahasa yang anda gunakan juga berbeda. Sistem yang ada di tempat itu berbeda dengan sistem hidup yang selama ini anda jalani. Begitu juga halnya dengan budaya. Budaya di tempat anda tinggal sekarang sangat berbeda dengan budaya yang telah anda jalani selama anda hidup.
Pernahkah anda kesal karena tidak mengerti akan headlines yang ada di koran hari ini. Pernahkah anda kesal di kala tidak bisa menikmati acara yang ada di televisi karena mereka menggunakan bahasa mereka sendiri. Pernahkah anda merasa asing di kala duduk di dalam bis dan mendengar orang lain bercakap-cakap dalam bahasa yang anda tidak mengerti, seakan-akan mereka sedang membicarakan anda. Pernahkah anda merasa ragu untuk mengangkat telfon yang berdering karena takut orang yang menelfon disana tidak mengerti apa yang anda katakan.
Setiap bertemu dengan orang baru di kota itu, anda selalu berkata "Sorry, I don't speak dutch"
Lantas...Apa yang anda rasakan saat itu? Apakah asing seperti ku?
Itulah gambaran suasana hatiku disaat aku pertama kali tiba di kota ini. Kota kecil di timur Belanda yang merupakan perbatasan Belanda dan Jerman. Enschede, itulah tempat tinggalku kini. Orang-orang di Indonesia (tempat tinggalku dulu) banyak yang tidak tahu akan tempat ini. Mereka hanya tahu universitas yang cukup terkenal disini, University of Twente. Aku berada disini untuk menemani suamiku yang sedang studi. Suamiku adalah salah satu Phd student diuniversitas itu.
Meskipun terkadang rasa asing dan sepi masih menghampiriku, tapi aku selalu merasa bahwa ini adalah hal yang terbaik dalam hidupku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doaku untuk bisa hidup bersama suamiku seperti saat ini. Setelah sembilan bulan berpisah karena aku tak kunjung memperoleh visa, kini aku bisa hidup bersama dengan suamiku. Apa lagi yang paling membahagiakan selain bisa hidup bersama orang yang kita cintai dan bisa membuatnya bahagia dan tersenyum . Melihat senyuman dari wajahnya, melihat ia melahap makanan yang aku hidangkan sampai habis tidak bersisa, melihat ia tidur nyenyak di pangkuanku, semua itu lebih dari cukup untuk menghapus rasa asing dan sepiku. Rasa asing dan sepi dalam diriku berubah menjadi rasa senang. Tiada lagi keasingan, tiada lagi kesepian.
Setelah beberapa bulan aku disini, aku mempunyai beberapa teman yang berasal dari indonesia dan juga dari berbagai macam negara. Mereka adalah teman sekelasku di kursus bahasa belanda, di Universitas Twente. Aku merasa tidak sendiri lagi. Bahkan kini aku merasa nyaman di kota ini. Merasa nyaman melihat suamiku yang semakin hari semakin gemuk dan lucu. Merasa nyaman dengan teman-temanku dan tempat tinggalku kini.
Mudah-mudahan rasa ikhlasku untuk berada disini bersama suamiku bisa aku pupuk terus menerus. Aku tahu bagaimana susahnya untuk menjadi seorang yang ikhlas. Tapi setiap membayangkan wajah suamiku yang selalu tersenyum setiap pulang kerja, aku merasa diriku belum memberikan yang terbaik untuk membuatnya lebih bahagia. Aku ingin ia lebih bahagia dari hari ke hari.
31 Oktober 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar